Selamat Datang di Korean First

Pendidikan Terbaik Untuk Siswa Terbaik

Alasan Sesungguhnya Dunia Hiburan Korea Akhirnya Mengakui Kebijakan “One China”

 

Pihak Mnet Asian Music Awards 2017 pada hari Senin lalu akhirnya mengumumkan bahka mereka menghapus bagian dari laman resmi situs mereka yang mengelompokan Hong Kong, Taiwan, dan Macau sebagai sebuah negara yang merdeka.

Langkah tersebut dilakukan setelah netizen Tiongkok meminta pemboikotan MAMA 2017 karena mereka menganggap keputusan Mnet untuk mengakui kemerdekaan ketiga wilayah tersebut telah mengabaikan kebijakan Tiongkok yaitu “One China” atau China Bersatu.

Kebijakan “One China” ini merupakan kebijakan yang hanya mengakui satu negara berdaulat yaitu China. Kebijakan ini tidak mengakui adanya Republik China atau lebih sering disebut sebagai Taiwan.

“Kami (Mnet) memahami kekhawatiran dari pihak Tiongkok dan memutuskan untuk menghapus halaman tersebut. Banyak kejadian tidak terduga bis terjadi saat menjalankan bisnis global,” kata Kim Hyun-soo, kepala departemen bisnis konvensi di CJ E&M, operator Mnet. “Kami akan melihat lebih dekat masalah ini di masa depan dan menangani masalah tersebut.”

Pejabat di CJ sangat berhati-hati dengan komentar mereka, namun keputusan tersebut secara efektif menunjukkan bahwa operator Mnet tersebut telah menyerah pada tuntutan Tiongkok untuk menghormati kebijakan “One China”

Seperti yang  kita ketahui bersama, sejak K-Pop memperluas jangkauannya ke luar negeri, hubungan lintas negara seperti ini sering kali menjadi isu-isu tidak menyenangkan bagi para pelaku seni di Korea serta agensi-agensi mereka.

Insiden yang cukup menghebohkan dulu sempat terjadi pada tahun 2015 ketika Tzuyu ‘Twice’, yang merupakan merupakan girl group papan atas Korea, muncul di sebuah acara televisi di MBC dan melambaikan bendera Taiwan. Setelah kejadian itu menjadi beitu viral di media sosial, kontroversi pun terjadi hingga banyak pihak yang menyangsikan apakah JYP Entertainmen selaku agensi dari grup Twice dan juga Tzuyu mengabaikan kebijakan “One China” ini.

MBC/Korea Herald

Kontroversi ini pun selanjutnya semakin menjadi-jadi ketika secara resmi pihak JYP Entertainment kala itu menyatakan bahwa mereka tidak bisa memilih antara Tiongkok atau Taiwan. Pernyataan ini kemudian menjadi begitu ambigu dan diinterpretasikan sebagai pengakuan status kemerdekaan Taiwan atas Tiongkok.

JYP pun berusaha memadamkan api yang sudah terlanjur membara dengan mengatakan bahwa tindakan atau pernyataan tersebut samasekali tidak bersifat politis dan bahwa Tzuyu bersama JYP menghormati kebijakan “One China” tersebut.

Seperti yang kita ketahui bersama, konstitusi Tiongkok dan Taiwan mengklaim kedaulatan atas wilayah masing-masing, meskipun orang-orang Taiwan terbagi antara mengklaim kedaulatan atas Tiongkok secara keseluruhan dan sebagiannya lagi berpendapat bahwa mereka adalah dua negara yang terpisah.

Hong Kong sendiri mengadopsi prinsip “Satu negara, dua sistem” dengan memelihara sistem politik dan ekonomi yang terpisah dari Tiongkok. Sementara itu banyak sekali warga Hong Kong yang mengidentifikasi diri mereka sebagai warga Hongkong daripada Tiongkok. Pada hakikatnya, konflik yang terjadi di Hongkok berbeda daripada yang terjadi di Taiwan karena kota ini secara resmi mengakui dirinya sebagai wilayah administratif khusus Tiongkok (mirip seperti Yogyakarta yang ada di Indonesia, memiliki pemerintahannya sendiri tapi masih jadi bagian dari Indonesia).

Mengingat kembali insiden Tzuyu, ada beberapa orang yang merasa pihak JYP seharusnya memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai isu yang sangat sensitif ini. Ketika harus memilih antara menyetujui Tiongkok atau Taiwan, industri K-Pop di Korea justru cenderung memilih Tiongkok. Hal ini tentu disebabkan oleh fakta bahwa Tiongkok merupakan pasar yang jauh lebih besar dan luas bagi industri mereka.

Pada tahun 2014, sekitar setengah dari 44 juta suara yang melakukan voting di situs resmi MAMA bagi para artis K-Pop berasal dari Tiongkok. Masyarakat Korea sendiri hanya terhitung 10,5 persen  saja, sementara itu jumlah keseluruhan dari vote yang berasal dai Asia Tenggara terhitung 26,1 persen. Dari fakta ini saja sudah jelas membuktikan bahwa Tiongkok merupakan market paling penting bagi industri K-Pop.

Menurut sebuah analisis oleh DB Financial Investment, penjualan SM Entertinment di Tiongkok pada tahun 2016 mengalami penurunan sejumla 7,1 persen menjadi 12,5 persen saja dari total keseluruhan penjualan mereka. Ini saja sudah menunjukkan kurangnya aktivitas di Tiongkok sebagai salah satu alasan dari peforma perusahaan yang memburuk.

Saham untuk perusahaan besar di sektor hiburan Korea (CJ E&M, YG Entertainment, SM Entertainment, dan JYP Entertainment) telah menunjukkan kenaikan sejak berita tentang hubungan Seoul-Beijing membaik setelah sebelumnya keruh akibat sengketa sistem pertahanan Korea yang bekerja sama dengan Amerika.

Dengan begitu tidak dapat disangkal lagi bahwa Tiongkok adalah salah satu pasar terpenting bagi industri K-Pop. Jadi industri paling utama Korea ini memang harus bisa berhati-hati dalam mengikuti perkembangan politik yang terjad di Tiongkok dan sebisa mungkin menuruti apa yang diminta oleh pihak Tiongkok.

 

(Diterjemahkan secara bebas dari Korea Herald)

 

Baca juga :

4 Fakta Tentang  Jung Hae-in yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Menjamurnya Acara TV ‘Copycat’ di Korea

Drama Non-Romantis Kini Lebih Menarik Perhatian Penonton

Album ‘Love Yourself Seung Her’ BTS Menjadi Album Paling Banyak Terjual dalam 16 Tahun

6 Alasan Mengapa Masyarakat Korea Melakukan Operasi Plastik

KOREAN FIRST © 2018