Selamat Datang di Korean First

Pendidikan Terbaik Untuk Siswa Terbaik

Hati-hati Jika Ingin Pijat di Korea, Kalian Bisa Melanggar Hukum Loh!

 

Setelah hari-hari yang panjang dan melelahkan pasti ada saat di mana kita ingin menikmati waktu untuk releks dan bersantai. Salah satu caranya adalah pergi ke panti pijat atau memanggil tukang pijat ke rumah untuk membantu kita merenggangkan otot-otot yang tegang akibat akivitas melelahkan sepanjang minggu.

Nah, namun ada satu hal yang harus kalian ingat apabila kalian sekarang sedang atau hendak pergi berlibur ke Korea, bekerja di Korea, dan belajar di Korea, yaitu menurut Pasal 82, Klausul 1 Udang-Undang Medis Negara Korea mengatakan bahwa menyediakan pijat terapeutik untuk bisnis disediakan khusus untuk orang-orang tunanetra atau orang yang secara nasional telah bersertifikat.

Sayangnya, secara faktual kebanyakan orang Korea sendiri tidak tahu atau memilih untuk mengabaikan hukum tentang penggunaan atau penyediaan jasa pijat di negara ini. Di seantero Korea sesungguhnya ada puluhan ribu panti pijat yang memiliki variasi harga dan gaya pijat, mulai dari gaya tradisional Thailand hingga pijat ala kaisar China dengan terapi aroma, khusus untuk olahraga, dan perawatan kaki. Para panti ini sendiri pun tidak hanya mempekerjakan orang Korea saja namun juga tukang pijat asing yang digaji lebih murah. Nah, fakta menyejutkannya adalah semua panti ini ilegal.

Sayangnya, panti-panti pijat ilegal seperti ini justru panti yang mendominasi pasar. Dalam jarang satu kilometer saja di distrik Myeong-dong yang ada di Seoul, ibukota Korea Selatan, dan merupakan pusat turis yang cukup terkenal, ada sekitar 280 panti pijat dan hanya 14 di antaranya saja yang legal. Hal ini disampaikan oleh salah satu harian massa Korea yaitu Hankook Ilbo.

Daerah-daerah lain yang dekat dengan distrik bisnis terkonsentrasi lainnya seperti di Stasiun Metro Chongsin University di Dongjak-gu dan Stasiun Metro Samseong di Gangnam-gu pun memiliki proposi yang sama. Dengan panti pijat resmi hanyalah berjumlah 12 panti dari 198 panti pijat yang ada di Dongjak-gu kemudian hanya 11 panti resmi dari 255 panti yang beroperasi di Gangnam-gu.

Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan mengatakan pada hari Senin bahwa di antara 252.794 orang penyandang cacat visual (tunanetra) di Korea hanya 9.742 orang saja yang mendapatkan lisensi bekerjsa sebagai tukang pijat dan bekerja di 1.300 panti pijat resmi yang ada di Korea.

Pihak kementrian sendiri sudah berusaha untuk menurunkan angka panti-panti pijat ini dengan menegakan hukum, yaitu hukuman penjara sampai 3 tahun atau denda sampai 10 juta won. Hanya saja, mengendalikan sektor ini sama saja seperti  mencoba untuk menghancurkan batu dengan menggunakan telur. Para pelaku bisnis ilegal ini dan penegak hukum nyaris tidak pernah saling “mengganggu” kecuali ada bukti adanya bisnis prostitusi. Salah seorang pemijat di sebuah hotel di Mapo-gu, Seoul, mengatakan bahwa panti yang tidak memberikan layanan seksual jarang sekali dirazia.

“Dengan kta lain, pemerintah tidak berani benar-benar berurusan dengan industri yang beraka dalam masyarakat kita,” ungkap Hankook Ilbo di dalam artikel mereka. “Petugas penegak hukum hanya mencari panti-panti tertentu saja untuk menunjukkan bahwa undang-undang tersebut berusaha untuk membantuk warga tunanetra dan para pekerja berlisensi.”

Meskipun panti pijat seperti ini ilegal, sesungguhnya bisnis ini telah secara terstruktur menjadi bisnis “legal” di masyarakat sehingga pemerintah Korea merasa kesulitan untuk mengendalikannya. Ada banyak contoh kasus bahwa pelaku bisnis ini justru menang saat bisnis mereka di bawa ke pengadilan dengan mengatakan bahwa jika mendaftarkan bisnis untuk kepentingan publik itu tidak perlu melakukan pengecekan apabila bisnis mereka melanggar undang-undang atau tidak.

Sementara itu, para panti pijat ini juga mendapat dukungan dari beberapa perguruan tinggi dan institusi swasta yang menerbitkan “sertifikat palsu” kepada para pelajar yang menyelesaikan trainning bersama mereka.

Selain itu, polisi kota (sheriff) sendiri justru tidak memiliki wewenang untuk menutup panti ilegal tersebut karena sebagian besar dari mereka terdaftar sebagai “profesi liberal” yang tidak dapat menindak hukum.

Kim Tae-young, presiden dari Korea Sports Massage Certificate Association, mengatakan bahwa harus ada undang-undang baru yang menyetujui pendirian yang dioperasikan oleh orang-orang tuna netra dan mereka yang tidak memiliki kecacatan fisik.

“Jadi, oang-orang tunanetra bisa menikmati keuntungan seperti pengurangan pajak sementara yang lain harus membayar pajak tambahan,” ungkap Kim.

 

(Diterjemahkan secara bebas dari Korean Times)

Baca juga:

소개팅 – Sogae-ting: Kencan Buta Masih Sangat Populer di Korea

8 Tempat Paling Berhantu di Korea Selatan

6 Distrik Berpenduduk Internasional Terbanyak di Seoul

‘해장 – Haejang’ : Makanan adalah Obat Untuk Mengatasi Rasa Mabuk

Semakin Banyak Restoran Bersertifikasi Halal di Korea

KOREAN FIRST © 2018