KOREAN FIRST

Pendidikan Terbaik Untuk Siswa Terbaik

Kenapa Ya Budaya Korea Selatan itu Sangat Materialistis?

 

Kalian sadari atau tidak, pasti kalian tahu bahwa orang-orang Korea menyukai barang-barang branded, entah itu dilihat dari para idola K-Pop yang selalu berdandan sangat fancy mau pun orang Korea biasa yang sangat memperhatikan penampilan dan barang-barang yang mereka gunakan sehari-hari.

Di Korea Selatan, sebuah objek atau benda-benda duniawi mendefinisikan identitas seseorang. Ini merupakan budaya yang tercipta akibat pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat di negara tersebut sehingga melahirkan budaya nauveau-riche atau budaya yang menampilkan kekayaan secara mencolok. Pertumbuhan ekonomi tersebut pun menimbulkan kesadaran akan pengakuan status seseorang, sehingga banyak orang yang mengharapkan afirmasi atau penghargaan dari orang lain sehinga masyarakat Korea menikmati atau enjoy untuk memaerkan kesuksesan mereka melalui barang-barang material.

Intinya, masyarakat Korea Selatam merupakan masyarakat yang kapitalis dan secara natural merupakan masyarakat yang konsumeris atau memiliki tingkat konsumsi akan barang yang tinggi. Tanpa adanya budaya konsumsi yang konstan seperti ini, pertumbuhan ekonomi di Korea tidak akan berjalan sedemikian hebatnya dan sistem kapitalis mereka akan gagal. Meskipun pada kenyataannya kondisi masyarakat yang seperti ini akhirnya mendorong prilaku materialististik.

Akan tetapi, di antara negara-negara kapitalis lainnya, konsumerisme dan materialisme Korea Selatan ternyata sangat mencolok. Hingga akhirnya memicu Paus Fransiskus I menyampaikan dalam kontbahnya di Korea Selatan pada tahun 2014 lalu tentang bahaya materialisme.

Hal ini mungkin karena pertumbuhan ekonomi Korea yang relatif cepat dan baru terjadi di beberapa dekade belakangan ini sehingga Korea Selatan langsung terkenal dengan budaya nouveau-riche- nya. Kekayaan memang sering kali dipamerkan dengan cara tidak biasa seperti memamerkan nama merek besar ke mana-mana. Tas Louis Vuitton pun pernah dijuluki sebagai “Tas Tiga Detik” di Korea, karena Anda bisa melihat tas bermerek tersebut setiap tiga detik di lingkungan Seoul yang sibuk.

Sementara itu, perang “pamer” kekayaan yang menakjubkan semakin meraja lela dalam beberapa tahun terakhir ini dan semakin membuat orang mengerutkan kening. Hal ini tentu ditandai dengan penjualan barang mewah terus meningkat di Korea Selatan. Tidak seperti di Jepang, Eropa dan Amerika Serikat yang sudah terkenal sebagai negara yang kapitalis. Penekanan dari penggunaan barang-barang mewah ini memang tidak lagu berkiblat pada well-known brand seperti Luis Vuitton lagi, tapi lebih kepada perhiasan-perhiasan yang terlihat “halus” dan merek-merek yang tidak begitu terkenal tapi tetapi ekslusif.

Sumber dari pertumbuhan ekonomi Korea yang luar biasa ini adalah persaingan yang sangat sengit di tengah-tengah masyarakat. Sebagian faktor pendorong dari persaingan ini adalah perbandingan atau budaya membanding-bandingkan diri sendiri dengan sesama orang Korea dan juga orang asing. Masyarakat Korea Selatan telah terbiasa menjadi “pengkritik yang keras” bagi orang-orang satu sama lain. Setidaknya mereka melakukan hal itu kepada anak-anak mereka sendiri dan teman sebayanya. Anak-anak di Korea Selatan sejak muda diajarkan untuk melakukan lebih dari teman sebaya mereka atau pun keluarga dan orang asing. Istilah “Anaknya teman ibu (Mom’s friend’s son)” adalah sebutan bagi sosok orangtua Korea Selatan yang biasanya memotivasi anak-anak mereka dengan menyoroti kekurangannya dan membandingkan usaha anak mereka sendiri dengan anak orang lain. Budaya seperti itu merupakan budaya Korea yang tidak bisa kita abaikan atau pun kita hilangkan begitu saja.

Nah, dengan barang-barang meterial yang digunakan sebagai penanda status sosial, memamerkan barang-barang ini pun menjadi salah satu jalan tikus bagi mereka yang ingin menunjukkan kesuksesan dalam kehidupan mereka. Image dan reputasi ditentukan dari apa yang kamu konsumsi, miliki dan posting di media sosial. Seorang individu dinilai atau dapat disimpulkan dari jumlah karta benda mereka hingga akhirnya hubungan antara pasangan pun dinilai berdasarkan jumlah “materi” yang mereka keluarkan untuk hadiah, restoran, dan liburan satu sama lain.

A post shared by aey_ae (@aey_ae) on

Simbol status yang kuat termasuk di dalamnya mobil dan properti mahal pun  menjadi salah satu penanda yang sangat mencolok. Mobil impor tentu lebih baik daripada mobil domestik (contohnya Hyundai), sehingga membuat Mercedes-Benz ternyata jauh lebih populer di Korea Selatan ketimbang di negara tempat mobil itu berasal sendiri. Wilayah tertentu di Seoul (Gangnam) pun langsung dikaitkan dengan kekayaan dan harta warisan. Bahkan anak-anak sekolah dasar di Korea Selatan pun sekarang sering mendiskusikan ukuran apartemen dan mobil orangtua mereka, seolah-olah hendak membangun rangking atau tatanan sosial di kalangan mereka sendiri.

Baru-baru ini, kecenderungan materialistis ini telah masuk ke dalam bentuk tren baru, yang dikenal dengan istilah: “Sibal boyong” atau dalam bahasa Indonesia “Masa bodo dengan harga”. Pengeluaran yang impulsif dan mendadak dalam jumlah yang banyak untuk hal-hal sepele sering kali terjadi di kalangan kaum muda Korea. Hal ini disinyalir untuk mengurangi stress atau yang disebut dengan neologisme, atau tidakan menghabiskan uang hanya untuk merasa lebih baik dan tanpa alasan yang jelas. Misalnya naik taksi (taksi di Korea sanga mahal) untuk melakukan perjalanan jarak pendek.

Korea Selatan adalah masyarakat yang menghargai kerendahan hati  hanya pada tingkat yang sangat atau paling dangkal. Sementara kesuksesan dan kekuatan individual perlu diperlihatkan dan diakui. Jadi, barang-barang material adalah sarana yang palingdigemari masyarakat di negara tersebut untuk mencapai pengakuian tersebut.

 

(Source: Korean Expose)

 

Baca juga:

Pulau Jeju “Overdosis” Turis, Kalian Masih Mau ke Sana?

Survei Menunjukkan Bahwa Masyarakat Korea adalah Xenophobia Garis Keras, Kok Bisa?

Dampak dari Kenaikan Upah Minimum (UMR) di Korea, 7 Pekerja Asing pun Dipecat

Daebak! Ini 5 Festival Musim Dingin yang Harus Kamu Kunjungi Kalau Pergi Ke Korea!

Begini Loh Rasanya Pacaran dengan Cowok Korea, 5 Hal yang Harus Kamu Tahu!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOREAN FIRST © 2018