KOREAN FIRST

Pendidikan Terbaik Untuk Siswa Terbaik

Pulau Jeju “Overdosis” Turis, Kalian Masih Mau ke Sana?

Setiap tahunnya, sekitar 15 juta turis datang berkunjung ke Pulau Jeju, padahal, pulau paling selatan dari wilayah Korea Selatan ini hanya mampu menampung kurang-lebih 660.000 saja.

Selama satu dekade terakhir ini, Pulau Jeju memang telah berubah menjadi pusat pariwisata Korea dengan banyaknya hotel dan resor mewah. Hal ini dipicu dengan makin meningkatnya pengunjung atau turis yang berasal dari luar negeri mau pun dari dalam negeri sendiri.

Akan tetapi, kesuksesan dan terkenalnya Pulau Jeju ini rupanya telah mencapai titik yang cukup mengkhawatirkan karena adanya dampak buruk dari banyaknya turis yang datang. Jumlah sampah yang meluap serta kebisingan tiada henti telah menjadi kehidupan di Pulau Jeju. Kemacetan lalu lintas pun sudah menjadi hal yang umum. Ditambah lagi, pasokan air bawah tanah di Pulau Jeju baru-baru ini dinyatakan dalam titik yang membahayakan.

Segala hal yang mengancam kestabilan hidup di Pulau Jeju ini pun memicu pemerintah Korea Selatan untuk membangun bandara baru di wilayah Pulau Jeju Selatan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan serta prediksi jumlah turis yang datang ke Pulau ini akan mencapai angka 45 juta pada tahun 2035, tiga kali lipat lebih banyak.

Sejak pemerintah Korea Selatan mencanangkan rencana ini dua tahun lalu, sesungguhnya ribuan penduduk asli Pulau Jeju telah melakukan banyak sekali protes. Protes-protes ini didasari karena mekera menganggap para turis yang datang serta semakin banyaknya turis di masa depan, justru malah akan menghancurkan keindahan Pulau Jeju yang pada awalnya menarik perhatian dunia itu.

Kang Won-bo,  direktur sekaligus pemimpin dari keplompok pemerotes rencana pemerintah tersebut mengatakan pada Korean Times bahwa rencana pembangunan bandara dan digenjotnya pariwisata di Pulau Jeju tersebut justru mengancam kemurnian Pulau Jeju karena akan lebih banyak orang asing yang datang serta membawa sambah juga kemacetan.

“Sebagai tambahan dari kerugian yang sudah jelas tersebut, penduduk asli Jeju harus merasakan stress karena banyaknya orang dan kebisingan yang ada di mana-mana,” ungkap Kang Won-bo lagi. Menurutnya, banyak sekali penduduk Pulau Jeju yang diam-diam merasa senang ketika Pemerintah Tiongkok memberlakukan pelarangan warga negaranya untuk bertamasya ke Korea Slatan tahun lalu (akibat kerjasama Pemerintah Korea Selatan dan AS dalam pengembangan sistem anti nuklir dan rudal).

Selama beberapa bulan terakhir ini, para demonstran dan penentang dari kebijakan pemerintah Korea atas bendara yang akan dibangun ini semakin menyaring menyuarakan pendapatnya dengan berdemo di seluruh pulau Jeju dan juga di Seoul.

Menghadapi perlawanan sengit dari para demonstran, Pemerintah Korea Selatan melalui Kementrian Pertahanan, Infastruktur, dan Transportasi Korea akhirnya menunda rencana tersebut dan mengatakan bahwa akan memeriksa dan mengevaluasi Seogwipo Jeju untuk menentukan apakah kota tersebut adalah lokasi yang tepat untuk membangun bandara baru bagi Pulau Jeju.

Kang pun mengungkapkan bahwa miskonsepsi terbesar tentang meledaknya pariwisata di Pulau Jeju adalah para penduduk asli pulau tersebut mendapatkan keuntungan yang besar karena bisnis  yang turut berkembang. Padahal kenyataannya, nyaris semua fasilitas komersial seperti hotel dan lain-lain di Pulau ini, dimiliki oleh orang asing atau perusahaan-perusahaan besar. Sementara bisnis-bisnis lokal yang dimiliki oleh masyarakat Jeju sendiri justru hanya mendapatkan keuntungan yang sangan kecil dari uang yang dibawa oleh turis-turis ke pulau ini.

Contohnya saja turis-turis yang berasal dari Tiongkok. Turis-turis dari Tiongkok merupakan jumlah terbanyak yang datang ke pulau ini, yaitu sekitar 80% dari jumlah total semua turis. Turis-turis ini datang ke Pulau Jeju, namun justru lebih memilih untuk makan di restoran masakan Tiongkok yang dimiliki oleh orang Tiongkok sendiri.

Bahkan kisah lebih parahnya lagi adalah, penduduk asli Jeju pun mengeluhkan bahwa mereka dipaksa untuk menutup hotel-hotel yang mereka dirikan sendiri oleh para konglomerat pengembang hotel. Hal ini sungguh tidak adil dan membuat penduduk Pulau Jeju geram bukan main.

Para demonstran dan pemerotes pun menuduh bahwa Pemerintah Korea Selatan melalui kementrian mereka telah gagal mengkomunikasikan masalah ini kepada mereka sejak awal.

Namun, dari pihak kementrian langsung membantah tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa mereka telah mengumpulkan banyak opini dari penduduk setempat dan berkomunikasi secara terbuka melalui beberapa pertemuan sebelum mengumumkan projek bandara tersebut.

A post shared by 한라일보 (@hallanews) on

Pihak kementrian pun mengatakan bahwa Banda Internasional Jeju sekarang sudah tidak mampu menampung penumpang yang datang akibat semakin banyaknya permintaan, keamanan pun menjadi salah satu perhitungan bagi pemerintah untuk secepatnya membangun bandara baru di Pulau Jeju. Menurut perkiraan, jumlah penumpang yang keluar-masuk bandara ini sekitar 30 juta orang. Jumlah itu sebenarnya 4 juta lebih banyak daripada daya tampung dari Bandara Internasional Jeju tersebbut.

A post shared by (18+) 🇰🇷 (@__c0__h) on

“Karena jumlah pesawat yang meningkat di bandara, sebuah kecelakaan pesawat bisa saja terjadi pada tanggal 29 September lalu,” ungkap juru bicara kementrian. “(maka dari itu) Untuk memastikan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang, membangun bandara lain sangat penting.”

Kementrian pun mengatakan bahwa pihaknya selalu terbuka untuk berdialog dengan penduduk Pulau Jeju. Tetapi jika tindakan protes seperti ini terus berlanjut bahkan setelah pemeriksaan dan diskusi objektif, maka pihak kementrian akan membawa masaah ini ke pengadilan tinggi.

Memang, ketika kita berbicara tentang problematika pariwisata massal seperti ini, Pulau Jeju tidaklah satu-satunya tempat di dunia yang mengalaminya. Pulau Bali di Indonesia serta Venesia mau pun Barcelona pun mengalami banyak arus pengunjung yang mengakibatkan negara dan pemerintah mereka “kocar-kacir” untuk menatanya kembali.

(source: Korean Times)

 

Baca juga:

Luar Biasa! Barbershop Tertua di Korea ini Tidak Pernah Mengganti Alat Cukur Sejak Tahun 1950-an!

Daebak! Ini 5 Festival Musim Dingin yang Harus Kamu Kunjungi Kalau Pergi Ke Korea!

Coba Lihat! Ini 3 Lokasi Besejarah Korea yang Selama Ini Tersembunyi di Bawah Tanah

4 Hal yang Bisa Kalian Lakukan di Seongsu, Tempat “Pengungsian” Bagi Para Seniman Seoul

9 Es Krim Unik yang Bisa Kamu Nikmati di Seoul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOREAN FIRST © 2018