Selamat Datang di Korean First

Pendidikan Terbaik Untuk Siswa Terbaik

Tenaga Kerja Asing Kini Tidak bisa Tinggal Lebih dari 10 Tahun di Korea

 

Kabar kurang menyenangkan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) datang dari Kementrian Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan (The Ministry of Employment and Labor) Korea yang baru-baru ini mengurangi masa kerja maksimum tenaga kerja asing atau migran menjadi 10 tahun. Sebelumnya, seluruh tenaga kerja asing yang datang ke Korea melalui Sistem Izin Ketenagakerjaan atau EPS (Employment Permit System) dapat memiliki masa kerja maksimum hingga 14 tahun 5 bulan, namun akibat meningkatnya konflik antara tenaga kerja asli Korea dan pekerja asing, pemerintah Korea pun menerbitkan kebijakan baru tersebut.

Ketegangan yang terjadi di Korea ini memang bukan tanpa sebab, selama beberapa tahun belakangan ini meningkatnya tenaga kerja asing (migran) di Korea telah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Terhitung pada tahun 2016 lalu ada sekitar 17.551 orang tenaga kerja asing yang masuk ke Korea, lalu pada tahun 2017 sendiri hingga pada bulan Juli telah mencapai 11.268 orang. Diperkirakan pada akhir tahun nanti jumlah tenaga kerja asing yang masuk ke Korea akan mencapai 20.000 orang.

Dengan meningkatnya tenaga kerja asing atau migran ini, dikhawatirkan akan mengurangi upah dan kesempatan kerja bagi orang tua paruh baya dan orang-orang tua di Korea. Hal ini pun dibernarkan dengan penelitan  dari Korean Labor Institute yang mengindikasikan bahwa setiap kenaikan 1 persen pekerja asing di Korea makan akan berdampak pada penurunan upah kerja pekerja asli Korea sebanyak 1,1 persen.

Kekahwatiran inilah yang kemudian membuat banyak pekerja Korea merasa terancam. Akhirnya, demi melindungi tenaga kerja asli Korea, pemerinta pun memberlakukan kebijakan baru ini, yaitu mengurangi masa kerja maskimum pekerja asing atau migran di Korea.

Namun, kekhawatiran baru justru muncul dengan adanya kebijakan baru ini karena menimbulan reaksi keras dari para pekerja asing di Korea karena melawan tren global serta menciptakan lingkungan kerja yang sangat tidak bersahabat bagi pekerja migran. Para pekerja migran yang paling banyak terkena dampak dari kebijakan ini adalah pekerja-pekerja asal Tiongkok juga pekerja-pekerja asing asal Asia Tengah dan Asia Selatan.

(pictures taken from Kurs Rupiah and Nakernews, then edited)

KOREAN FIRST © 2018