Selamat Datang di Korean First

Pendidikan Terbaik Untuk Siswa Terbaik

Tidak Hanya Murid SMA di Korea, Murid SMK Tingkat Akhir di Negeri Ginseng pun Mengalami Tekanan

 

Kita sudah sering mendengar dan membaca bagaimana kehidupan murid-murid SMA di Korea Selatan yang begitu stres menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Hanya tidur 4-6 jam sehari dan belajar setiap hari (baca: 40 Persen Pelajar SMA di Korea Tidak Tidur Cukup). Banyak murid yang akhirnya tidak kuat menghadapi tekanan tersebut akhirnya bunuh diri. Kondisi ini ternyata tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh murid-murid SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan di Korea.

(baca : 4 Alasan Mengapa Kuliah Itu Penting di Korea )

Pada tanggal 19 November lalu, hanya empat hari berselang setelah ulang tahunnya yang ke-18, jantung Lee Min-ho pun berhenti berdetak untuk selamanya. Ia terbaring koma di rumah sakit Pulau Jeju sejak kecelakaan fatal yang terjadi pada 9 November lalu.

Lee yang merupakan murid tingkat akhir di sebuah sekolah kejuruan bekerja sendirian di sebuah pabrik minuman sebagai bagian dari pelatihan kerja. Rekaman CCTV menunjukkan bahwa Lee, yang bekerja tanpa pengawasan, masuk ke dalam mesin kompres yang saat itu sedang tidak befungsi untuk memeriksa mesin tersebut. Namun tiba-tiba saja mesin bergerak dan menekan Lee yang berada di bawahnya tepat di bagian leher. Remaja terebut terjebak di sana selama beberapa menit sampai akhirnya seseorang datang untuk membantu, akan tetapi semuanya telah terlambat dan kejadian tersebut menyebabkan luka yang sangat fatal.

Lee adalah seorang murid senior di SMK yang ada di Seogwipo, Jeju. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Sekolah Menengah Kejuruan tidak sama dengan Sekolah Menenga Atas biasanya. Sekolah kejuruan seperti ini biasanya berfokus pada pelatihan khusus yang mengembangkan keterampilan untuk diarahkan langsung pada suatu pekerjaan daripada masuk ke perguruan tinggi. Keistimewaan SMK yang ada di Korea tentu cakupannya di bidang pertanian, teknik, desain, dan layanan sosial.

Biasanya, pada paruh kedua tahun terakhir di SMK yang merupakan semester musim gugur di Korea Selatan, siswa di sekolah-sekolah kejuruan ini biasanya menjalani masa “magang” yang bertujuan untuk memberikan pengalaman bekerja langsung bagi murid-murid ini. Murid-murid yang cukup beruntung biasanya bisa langsung mendapatkan pekerjaan tetap di sana setelah lulus.

Sesungguhnya, pendidikan kejuruan ini bertujuan untuk memudahkan proses pencarian pekerjaan bagi kaum muda. Sayangnya, murid-murid magang atau trainee ini sering diperlakukan sebagai buruh murah dan harus tunduk pada lingkungan kerja yang buruh dan upah yang sangat rendah.

Banyak sekali kritik yang ditujukan pada perusahaan dan otoritas pendidikan serta semua pihak yang terlibat. Perusahaan menyalahgunakan tenaga kerja siswa, bergantung pada kurangnya pengalaman dan pengetahuan pada siswa tersebut untuk memaksa mereka bekerja sebagai buruh murah. Sekolah-sekolah, yang dipaksa untuk melaporkan tingkat atau jumlah murid mereka yang menjadi pegawai pada otoritas pendidikan setiap tahunnya (biasanya kantor pendidikan di provinsi) membuat sekolah-sekolah ini tetap mempekerjakan murid-murid mereka.

Seiring tingkat penerimaan di lapangan kerja tahunan sekolah-sekolah ini mempengaruhi jumlah anggaran pemerintah yang akan sekolah dapatkan, para guru pun rentan terhadap rasa ketidakpedulian kepada murid-murid mereka sendiri. Mereka hanya mengatakan kepada murid untuk bertahan di dalam lingkungan kerja yang keras dan mengabaikan kesehatan fisik dan mental mereka.

Kesengsaraan para pekerja muda ini sampai saat ini masih menjadi isu minor di Korea. Padahal, pada Januari tahun ini, seorang murid tingkat akhir di SMK yang ada di Jeonju, Hong, melakukan tindakan bunuh diri. Meskipun alasan mengapa ia melakukan tindakan bunuh diri tersebut tidak diketahui, beberapa menduga bahwa kematian itu disebabkan oleh pekerjaannya yang penuh tekanan. Hong sendiri merupakan seorang peserta pelatihan di sebuah call center yang banyak sekali pekerjanya berhenti karena target kerja yang tidak realistis dan tekanan emosional yang berat.

Pada bulan Mei tahun 2016 lalu, seorang  siswa SMK berusia 18 tahun, Kim, terlindas oleh kereta yang sedang melajut ketika ia sedang memperbaiki pintu monitor di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Seoul. Alih-alih bekerja secara berpasangan seperti ketentuan yang sudah ada, Kim justru bekerja sendirian yang akhirnya menghantarkannya pada kematian.

Pada tahun 2016, 14,2 persen perusahaan, tempat para murid magang SMK bekerja, menunda pembayaran upah mereka yaitu sekitar 8 juta won, menurut data yang ada di Kementrian Pekerjaan dan Tenaga Kerja Korea.

Pemerintah pun akhirnya secara teratur memeriksa lingkungan kerja para murid magang karena kasus ini akhirnya menuai banyak kritik dari masyarakat. Ha Seon-yeong, anggota DPR di wilayah Gyeongsang Selatan yang mewakili partai oposisi, menunjukkan bahwa kantor pendidikan sengaja menyembunyikan pelanggaran terhadap murid-murid magang karena dari 32 kasus yang terjadi hanya 3 kasus yang dilaporkan (Yonhap News). Dalam sebuah pernyataan, Dinas Pendidikan Gyeongsang Selatan pun akhirnya menjelaskan bahwa mereka memang menghilangkan 29 kasus tersebut karena masalahnya telah diatasi selah laporan diajukan.

“Kelompok masyarakat sipil menuntut agar pelatihan magang (mengirimkan murid ke pekerjaan lapangan langsung) dihapus sepenuhnya,” kata Lee Sang-hyeon, ketua dari Specialized High School Students’ Rights Association. “Tapi murid pun tidak sungguh-sungguh menginginkan hal itu terjadi. Baliknya, [sekolah dan otoritas] harus melindungi murid-murid dari eksploitasi tenaga kerja dan perlakukan tidak adil.”

(Diterjemahkan secara bebas dari Korean Expose)

 

baca juga: 

Ingin Belajar Bahasa Korea? Melalui ‘Program Bahasa’ Kalian Bisa Belajar Langsung di Korea Loh!

13 Hal yang harus Kamu Ketahui Tentang Beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program) S1-Undergraduate

9 Kata Dalam Bahasa Korea yang Bermakna Indah

4 Universitas Negeri yang Membuka Program Sarjana Bahasa Korea

 

KOREAN FIRST © 2018