WNI di Korea Selatan.

Pada hari Minggu, waktu setempat, seorang perempuan asal Indonesia mengklaim dipukuli oleh seorang penjaga di sebuah klub malam di Korea. Penjaga klub tersebut diduga memperlakukan ia dan temannya secara diskriminatif karena kewarganegaraan mereka. Hingga akhirnya wanita tersebut harus dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan delapan jahitan di bibirnya.

Jessica Setia (21), seorang warga negara Indonesia merupakan seorang pelajar yang telah menimba ilmu di Korea selama dua tahun. Menderita luka selebar 0,5 sentimeter di bagian bibirnya serta memar di dagunya akibat perkelahian dengan seorang penjaga klub (bouncer) yang merupakan seorang pria. Kejadian ini terjadi di sebuah klub malam yang ada di Busan, pada hari jumat lalu.

Setia mengatakan bahwa ia dipukuli “karena pria itu sangat rasis terhadap kami tanpa alasan yang jelas”. Ketika pria penjaga pintu itu memeriksa kartu identitasnya dan teman-temannya. Setia mengatakan bahwa pria itu secara paksa mengeluarkan kartu identitasnya hingga perempuan itu merasa terganggung.

“Mereka membiarkan teman-teman saya yang berkewarganegaraan Korea (masuk) dengan mudah. Namun, ketika mereka datang keada saya dan teman Indonesia saya, pria itu justru menyulitkan (untuk masuk ke klub). Begitulah yang kami alami dalam kehidupan kami sehari-hari.” Berikut pengakuan Setia kepada wartawan The Herald Korea.

Salah satu teman Setia, Gabrielle, juga mengalami perlakukan tidak menyenangkan saat pria penjaga pintu tersebut membuang kartu identitasnya ke trotoar dan mendorong wanita itu. Marah dengan tindakan tidak adil dan kasar terhadap temannya itu, Setia mengakui bahwa dirinyalah yang mendorong penjaga pintu tersebut lebih dulu. Ketika perkelahian terus berlanjut, Setia pun dipukuli beberapa kali hingga bibirnya sobek dan berdara. Lalu barulah ia dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan delapan jahitan di sana.

“Paling tidak, saya ingin dia (penjanga klub) membayar biaya rumah sakit saya. Saya ingin keadilan dilayani untuk orang asing dan pengurangan tindakan diskriminasi bagi kita,” kata Setia.

Gabrielle juga percaya bahwa mereka menderita perlakukan tidak menyenangkan seperti itu akibat etnis dan kewarganegaraan mereka. “Saya terbiasa dengan orang-orang yang memandang rendah orang Indonesia. Saya pikir dia (penjaga klub ) tidak menyukai orang asing sehingga dia mungkin bersikap kasar kepada kami, terutama karena kami bukan bule kulit putih, “katanya. “Ketika kami kesal dan menunjukkannya kepadanya, saya pikir itu membuatnya marah.”

Kantor Polisi Seomyeon Busan mengatakan bahwa penyelidikan sedang dilakukan dan orang-orang yang terlibat di dalam perkelahian tersebut dipanggil untuk diperiksa.

“Orang itu (penjaga klub) berpendapat bahwa itu adalah perkelahian dua arah. Karena akibat perkelahian tersebut, sisi kiri pipinya pun menjadi bengkak, itu menurut penyelidikan (awal) kami. Kami akan menyelidiki lebih lanjut kasus tersebut pada hari Senin, ” kata seorang petugas polisi dari ketua tim yang bertanggung jawab atas penyelidikan awal kasus tersebut.

 

Pengalaman Jessica Setia dan temannya tersebut menjadi viral di media sosial (Facebook) setelah salah seorang temannya yang lain, Joshua Irwin, menulis sebuah tulisan yang menggambarkan apa yang terjadi pada Setia dan dia malam itu, bersamaan dengan gambar wajah Setia yang mengalami luka.

Pos tersebut mendapat lebih dari 1.000 suka, dibagikan 650 kali  dan memiliki 300 komentar pada hari Minggu sore setelah pertama kali diterbitkan pada hari Sabtu pagi.

Kebanyakan dari orang-orang yang bereaksi terhadap pos tersebut merupakan penduduk asing yang tinggal di Korea. Mereka pun menunjukkan dukungan terhadap Setia dan kemarahan terhadap apa yang terjadi pada perempuan tersebu. Karena dinilai sebagai tindakan diskriminatif dan berbagai pengalaman serupa di pos tersebut.

 

 

Di dalam pos Facebook-nya Irwin mengatakan bahwa alasan di balik tindakan provokasi “kecil” ternyata dapat menyebabkan perlakukan brutal semacam itu adalah keyakinan yang “ketinggalan zaman” dan “misoginis” yang percaya bahwa pria lebih unggul dari wanita.

“Gagasan ini banyak terjadi di banyak masyarakat (terutama di Korea). Perkelahian ini terjadi karena dengan cara berpikir (seperti) ini. Jika wanita tidak mengikuti protokol dan berbuat  sesuatu yang tidak menghormati pria maka wanita tersebut perlu diperiksa dan dihukum, “katanya.

“Selain itu, orang asing berkulit putih tidak diragukan lagi lebih berpengaruh daripada orang asing yang tidak terlihat berkulit putih atau berasal dari negara Asia lainnya,” kata Irwin. “Seandainya itu wanita Korea, atau wanita kulit putih, atau laki-laki maka saya yakin ini (perkelahian) tidak akan meningkat secepat itu.”

Amanda Bastos, warga negara Amerika yang telah tinggal di Korea selama tujuh tahun. juga berbicara tentang ketidakpercayaan orang asing terhadap polisi (Korea).

“Kemungkinan besar, hal ini terjadi karena dia (Setia) orang asing dan dia tahu tidak ada yang akan melakukan sesuatu untuk menolongnya. Juga, saya pikir hanya akan ada sedikit pertanggungjawaban saat terjadi kekerasan terhadap orang asing. “

Ini bukan pertama kalinya orang asing di Korea mengatakan bahwa klub dan bar telah melakukan tindakan diskriminasi berdasarkan etnis.

Pada awal Juni, Kislay Kumar, seorang warga India berusia 25 tahun, ditolak masuk ke sebuah bar di Itaewon, distrik multikultural di Seoul, karena kewarganegaraannya. Dia diberi tahu ” NO India” oleh penjaga pintu, menurut rekaman video. Teman-temannya dari negara lain diizinkan masuk.

Reporter Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membahas tentang tentang rasisme, Mutuma Ruteere.  mendesak Korea Selatan pada tahun 2014 untuk memberlakukan undang-undang anti-diskriminasi. Demi mengekang rasisme dan xenophobia, mengingat sejarah etnik di negara ini dan homogenitas budayanya.

Menurut sebuah survei tahun 2015 terhadap 4.000 orang dewasa yang ada di Korea oleh Kementerian Urusan Gender. Keluarga, 25,7 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan orang-orang dari ras yang berbeda sebagai tetangga.

(dari The Korea Herald)

 

Ingin Kursus Online Bahasa Korea? Ikuti Kelasnya Sekarang. Gabung Bersama Korean First!

Leave a Comment