Yut (윷) atau Yunnori (윷놀이) adalah salah satu permainan tradisonal Korea yang sangat terkenal. Permainan ini biasanya dimainkan pada saat Chuseok di musim gugur dan Lunar New Year di Musim dingin sebagai sarana pemersatu keluarga dan sanak saudara. Pada zaman dahulu kala, Yunnori biasanya juga dimainkan sebagai ajang taruhan di kalangan masyarakat berupa hewan ternak. Namun, pada zaman modern seperti sekarang, taruhan tersebut beralih berupa uang atau hukuman.

Yunnori dimainkan oleh dua tim yang terdiri dari perseorangan saja atau beberapa orang. Tak ada jumlah tertentu anggota dari setiap tim, biasanya semakin ramai pesertanya semakin seru permainannya. Alat permainan Yunnori terdiri atas satu papan permainan dengan pola di atasnya dan empat stik sepanjang kira-kira 15 cm yang sudah diberi tulisan penanda mal (말). Setiap tim akan secara bergantian melempar keempat stik yang berperan sebagai dadu dalam permainan dan pemenang dari permainan tersebut ditentukan oleh tim mana yang terlebih dulu membawa semua mal ke home base mereka.

Permainan yang Berusia Ribuan Tahun

permainan tradisonal Korea

 

Yunnori diperkirakan telah dimainkan di Semenanjung Korea sejak zaman tiga kerajaan atau sejak tahun 57 SM. Permainan ini memiliki usia yang sama dengan beberapa permainan tradisonal di belahan dunia lainnya, seperti Pachisi yang berasal dari India. Usia yang tua ini merupakan salah satu kebanggaan tersendiri di kalangan masyarakat Korea karena mampu mempertahankan tradisi leluhur mereka

Memiliki Makna Sosial yang Tinggi

Sebelum perang Korea pecah dan Semenanjung Korea kini terbagi menjadi dua, yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Yunnori telah ada dan eksis sebagai pemersatu di kalangan masyarakat.  Permainan ini memberikan kesenangan dan kegembiraan bagi para pemain serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kemampuan untuk mempersatukan orang-orang dalam sebuah permainan inilah yang menjadikan Yunnori bukan sekadar permainan tradisonal biasa dan masih terus dimainkan hingga sekarang.

Bahkan dalam beberapa usaha untuk mempersatukan Korea Utara dan Korea Selatan pun dimunculkan ide untuk mengundang warga Korea Utara dan Korea Selatan untuk bersama-sama memainkan Yunnori. Diharapkan dengan memainkan permainan ini bersama-sama. Hubungan antara kedua saudara yang sesungguhnya sebangsa dan setanah air ini  bisa kembali erat dan mungkin bisa bersatu kembali.

Budayawan Korea Memperjuangkan Yunnori Sebagai Warisan Budaya Dunia

Dalam beberapa tahun belakangan ini, seorang aktivis budaya yang berasal dari Korea Selatan, Kwon Chun-moon (75), tengah berjuang untuk mengangkat Yunnori sebagai salah satu warisan dunia. Hal ini tentu tidaklah berlebihan mengingat bagaimana Yunnori memiliki sejarah yang begitu panjang di masyarakat Semenanjung Korea dan perannya dalam mempersatukan Korea.

Satu juta tanda tangan petisi diperlukan untuk menjadikan Yunnori sebagai salah satu warisan budaya dunia. Petisi ini dikumpulkan sebagai tanda kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian permainan ini. Namun sejauh ini baru terkumpul kira-kira seratus ribuan tanda tangan yang mendukung Yunnori sebagai warisan budaya dunia. Kwon Chun-moon pun menyikapi hal ini dengan sedikit prihatin karena menyadari bahwa anak-anak muda zaman sekarang tidak begitu mempedulikan hal-hal semacam ini dan banyak terdistraksi oleh hal lain. Lebih-lebih, Kwon Chun-moon pun merasa kurangnya perhatian pemerintah dalam mempromosikan Yunnori di kalangan masyarakat juga sebagai salah satu alasan mengapa perjuangan yang ia lakukan mengalami progres yang begitu lambat.

Bagaimana nih, Sobat Korean First, kira-kira permainan tradisional apa yang masih kalian mainkan? Congklak? Kuda lumping? Yuk, tinggalkan sejenak game keninian kalian dan ajak beberapa teman untuk memainkan permainan tradisional yang dulu pernah kalian mainkan bersama!

Ingin Kursus Online Bahasa Korea? Ikuti Kelasnya Sekarang. Gabung Bersama Korean First!

One Comment

  • Aku pernah main tuh permainan itu, hehe
    seru sihh

Leave a Reply

Your email address will not be published.