September 15, 2019

Selamat Datang di Korean First

Mengejutkan, UMR Korea pada Tahun 2020 Resmi Hanya Mengalami Kenaikan 2,87% Menjadi 8,590 KRW Saja!

Mengejutkan, UMR Korea pada Tahun 2020 Resmi Hanya Mengalami Kenaikan 2,87% Menjadi 8,590 KRW Saja!

Setelah melalui serangkaian musyawarah panjang, pemerintah Korea Selatan akhirnya memutuskan, pada Jumat (12/7) pukul 05.30 pagi waktu setempat, upah minimim untuk tahun 2020 adalah sebesar 8,590 KRW (Rp 102.135, 00) per jamnya dengan jumlah tunjangan per bulan (209 jam) adalah 1,795,310 KRW (Rp 21.274.423,00). Angka ini hanya mengalami peningkatan sebesar 2,87% dari UMR tahun lalu yang berjumlah 8,350 KRW.

Kenaikan UMR Korea yang merupakan yang terendah selama satu dekade ini terjadi diakibatkan oleh perlambatan ekonomi dan buruknya kondisi lapangan pekerjaan di Korea. Dibandingkan dengan kenaikan UMR pada tahun 2019 lalu yang bisa mencapai 10,9%, kenaikan yang rendah pada tahun 2020 nanti juga merupakan kenaikan terendah ketiga sejak tahun 1988 saat sistem UMR ini diberlakukan.  

Hong Nam-ki, Menteri Ekonomi dan Keuangan Negara Korea, mengatakan bahwa keputusan ini telah bulat dan tidak akan membahas hal ini lagi di perlemen karena keputusan dari komisi tersebut sudah merupakan yang terbaik dari berbagai faktor ekonomi.  

Meskipun sesungguhnya masyarakat Korea mengharapkan peningkatan “satu digit” karena Presiden Moon Jae-in telah memberikan sinyal adanya fleksibilitas di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi di dalam mau pun di luar Korea, ternyata hal itu tidak dapat diwujudkan. Janji Presiden Moon Jae-in pada saat pemilu lalu tentang menaikan UMR Korea menjadi 10,000 KRW pada tahun 2020 pun sudah dipastikan hanya isapan jempol semata.

Padahal, pada tahun 2018, Korea sempat mengalami kenaik UMR tertinggi dalam 17 tahun, yaitu sebesar 16,4%, sehingga banyak masyarakat yang berharap kenaikan seperti itu terus stabil selama masa kepemimpinan Presiden Moon Jae-in. Namun, meskipun kenaikan UMR ini begitu diantisipasi, reaksi buruk justru datang dari kalangan perusahaan-perusahaan serta toko-toko menengah ke bawah karena meningkatnya biaya tenaga kerja. Padahal kenaikan UMR tersebut dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi namun para pengusaha menengah ke bawah justru memberhentikan para pekerja paruh waktu yang berdampak pada perlambatan pertumbuhan pekerjaan.

Park Joon-shik, Kepala Dewan Pengupahan, mengatakan bahwa para panel yang terdiri dari Komisi Upah Minimum serta perwakilan dari kaum buruh dan pengusaha, serta para ahli, telah memperhitungkan kondisi ekonomi yang sulit tersebut dalam mengambil keputusan akhir tentang UMR.

“Perekonomian Korea sendang mengalami kemunduruan. Dalam proses untuk mengejar kondisi ekonomi dan sosial yang lebih baik, situasi saat ini sangat membutuhkan penyesuaian percepatan dan arah,” ujar Park. Keputusan yang sangat kontroversial ini tentu mengundang protes keras dari kalangan buruh yang menagih janji pemilu Moon Jae-in pada tahun 2017 lalu.

 (sumber: KBS News & The Korean Herald)


MAU KURSUS ONLINE BAHASA KOREA UNTUK PERSIAPAN KERJA DI KOREA?

UNTUK MENDAFTAR KELAS BAHASA KOREA ONLINE!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.